Kenapa sedih... ??? kenapa menangis…???
Kenapa harus sesakit ini rasanya…??? Bukankah mencintai itu membuat hati
senang… membuat hati gembira… membuat hati tersenyum… kenapa harus kuraskan
yang seperti ini??? Apa salahku??? Tuhan… apa salahku sehingga aku seperti ini…
haruskah aku menerima ini semua karena mencintai seseorang? Apa salahnya dengan
itu? Kenapa? Kenapa???
Terngiang di kepalaku kata-kata dari ibuku,
“Nak, berada di perantauan ngati-ngati, palagi sama laki-laki”. Apakah memang
aku salah karena tujuanku dalam perantauan ini untuk belajar, tapi aku sampai
suka dengan laki-laki. Tapi apakah aku salah kalau mencintai laki-laki,
mengingat aku yang sudah mulai beranjak dewasa ini? Tuhan… apa rasa cinta itu
salah, kalau begitu kenapa Engkau memberikan rasa itu kepadaku?
Laki-laki itu tidak terlalu tinggi, tidak
juga rendah. Tidak terlalu gemuk, tapi juga tidak kurus. Wajahnya turus, tapi
kelihatan imut. Matanya sendu, sehingga terlihat seakan dia laki-laki yang
pendiam. “Mari mba, kubantu…”, kuingat ketika pertama kalinya aku dan dia
ketemu di depan kampus saat hujan turun dan aku kesulitan antara membawa payung
dan buku-bukuku seminggu yang lalu. Laki-laki yang baik, kukatakan dalam
hatiku. Yaa… mulai saat itu aku mulai mencari-cari dia dalam kampus. Pandangan
mataku otomatis selalu mencari bayang-bayangnya, di jalan, di perpustakaan, di
gedung kuliah, di mana-mana aku selalu mencari keberadaannya.
Entah kenapa akhir-akhir ini aku tidak
menemukan sosoknya dalam kampus. Laki-laki yang kukagumi karena kebaikannya
itu, hilang beberapa hari terakhir ini. Aku bahkan belum tahu namanya, tapi aku
punya julukan untuknya, Mr. Cool… Lucu juga kupikir saat aku memilih namanya,
aku sempat senyum-senyum sendiri dan dikira sedang sakid oleh teman-teman
dekatku. Dan saat aku ceritakan Mr. Cool pada Aria, Dini, dan Hana semuanya
menganggapku seperti anak kecil. Aku memang tidak tahu harus berbuat apa, aku
tidak terlalu mengerti tentang itu. Dulu, ketika ada kakak seniorku di SMP, dan
kita pernah dekat sebentar semuannya biasa-biasa saja. Yang kuingat, setiap
ketemu mas Farhan selalu berkata padaku, “senyum de’… manis klo senyum…”, lalu dia tertawa kecil sambil berlalu.
Kuketahui saat aku lulus, kata teman-temanku mas Farhan punya rasa padaku, tapi
karena aku biasa saja perasaan itu disimpan dalam hati yang terdalam mas
Farhan. Aku salut sama mas Farhan yang termasuk dalam kategori laki-laki paling
manis di SMP ku dulu.
“Mba Ara sudah makan siang?”, Tanya adik
tingkat mengagetkanku
“Sudah dek tadi, sama temen-temen mba”, jawabku
Aku tinggal bersama adik tingkatku, yang
berasal dari daerah yang sama, Kota paling timur, Banyuwangi yang terkenal
dengan cerita rakyatnya dulu. Sudah satu tahun aku tinggal bersama Tita, dia
anak yang sangat beda denganku. Dia sangat ceria, seperti dalam hidupnya tidak
ada beban. Sedangkan aku, pendiam yang dalam perbuatanku selalu kalem. Aku
jarang bercerita tentang hal yang pribadi dengannya. Eemmm… aku lebih suka
menyimpannya untuk diriku sendiri. Maka, jadilah aku yang sekarang bersedih
karena kehilangan sosok Mr. Cool akhir-akhir ini.
“Mba Ara, Tita mau ngasih surat cinta sama
Mas Gilang, tapi Tita takut mba…”, keluhnya ketika aku sedang baca novel.
“Kenapa mesti takut, wong cuman nulis surat
kog”, jawabku
“Tita takut salah nulisnya Mba, lihat ini
Mba…”, katanya sambil menyodorkan tulisan dalam kertas warna pink lembut
Kulihat sepintas, puisi yang indah batinku.
Aku saja pasti tidak bias menulis puisi seindah itu, curahan hati yang
terdalam. Apakah kalau jatuh cinta apa yang tidak bisa dilakukan jadi mudah
dilakukan. Subhanallah yaa…
“Mas Gilang sedang sakit Mba sekarang, dan
Tita pingin jenguk sekaliyan nyerahin surat ini”, katanya sambil senyum-senyum
sendiri
“Yaa… dibawain makanan juga Dek”, sahutku
“Siip Mba… Mba lyad dechh, mas Gilang cakep
ndak Mba?”, sambil menyerahkan foto dalam dompetnya
Innalillah… batinku. Inikah alur cerita
yang harus kujalani. Aku harus kuat. Aku tidak boleh menangis.
“Cakep Dek…”, jawabku singkat
“Iya kan Mba Ara, mas Gilang itu cakep dan
baik hati low…”,
Ceritanya membuat hatiku tidak sanggup
mendengarnya. Lama aku harus mendengarkan cerita yang membuat hatiku teriris-iris
sakit. Perih, hancur… kenapa seperti ini…
Ternyata karena sakit Mr. Cool tidak
kelihatan akhir-akhir ini, tapi kenapa saat tahu aku harus mengetahui ini
semua. Dia disukai juga oleh orang yang sudah kuanggap adik sendiri. Apakah
hidup itu memang sekejam ini…???
Aku terus menangis, mungkin hanya ini yang
kubisa menangis dan menangis. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Oh… Tuhanku…
kenapa aku harus menerima kenyataan ini? Kenapa?
Kudengar alunan lagu Melly Goeslow,
“Aku hanya ingin cinta yang halal
Di mata dunia juga akhirat
Biar aku sepi aku hampa aku basi
Tuhan sayang aku
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dengan dia tentu atas ijinNya”
Di mata dunia juga akhirat
Biar aku sepi aku hampa aku basi
Tuhan sayang aku
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dengan dia tentu atas ijinNya”
Sedih masih kurasakan untuk
menerima semw ini. Aku hanya bisa mendoakan agar semua mendapatkan kebahagiaan
yang diinginkan. Kupikir-pikir lagi… ya aku telah jatuh cinta dan rasanya sakit sekali. Apakah
ini memang resiko dari orang yang jatuh cinta… jatuh memang rasanya sakit,
apalagi ini yang jatuh adalah perasaanya… Subhanallah… aku mengerti sekarang,
jatuh cinta harus berani sakit, karena itu resiko. Akan lebih baik jika
membangun cinta berdasarkan iman dan ketakwaan kepada Allah,bukan hanya nafsu
belaka. Karena hakekatnya cinta itu harus dikembalikan pada fitrahnya yang suci
dan agung.
Yaaa… akhirnya kuputuskan
untuk menerima semua ini, dan kupasrahkan masalah ini pada yang Di atas.
Alhamdulillah… semua dengan semua ini bisa menjadikanku lebih dewasa dan bersikap.
Mungkin ini jalan cinta yang harus kulalui, dulu aku pernah disayangi kakak
tingkatku, dan sekarang aku mencintai seseorang dan dia tidak bisa aku
dapatkan, akankah ada jalan cinta yang
harus kutempuh lagy…??? Kuharap aku bisa dengan senyuman menjalaninya.
xxx
17 June 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar