Sebelumnya hanya teman biasa di
kelas. Jarang bercakap. Jarang bertemu. Tapi sebuah takdir mengubah semuanya.
Sebuah tugas kelompok yang menghubungkan antara keduannya. Sebut saja Rita dan Dimas.
Keduanya memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Rita dengan sifat
pendiam, terlalu serius, menginginkan perfect untuk semuanya, egois, bahkan
juga sangat menakutkan sebagai seorang mahasiswi karena jarang tersenyum.
Berbeda dengan Rita, Dimas seorang laki-laki yang ramah pada semua orang,
santai, easy going, dan yang paling membuat banyak orang suka adalah senyuman
yang selalu tersungging di bibirnya. Sungguh menawan sebagai seorang laki-laki.
“Ayo dunk, cepat kita kerjakan
tugas statistiknya!”, pinta Rita ke semua teman sekelompokku.
“Iyaaa, yang sabar dunk pren”,
sahut Anggun temen deket Rita
“Santai aja lah... kita tunggu
temen-temen yang lain dulu”, Dimas menyahut sambil tersenyum kepadaku.
“Emmm... Iyaa dech”, Rita tertegun
melihat Dimas beberapa saat.
“Ehhh... tapi kita belun lengkap
datane, karena semua tertinggal di kos ku”, sahut Rita tiba-tiba
“Siapa yang mw nganterin nich???”,
lanjut Rita
“Aku bawa motor, tapi gerimis
nich”, jawab Lila dengan enggan
“Tz sapa yang mw nganterin aku klo
gt??? Rita yang memelas
“Mana kuncinya, sama aku aja dah”,
jawab Dimas dengan santainnya
Rita terus berfikir, karena Anggun
pernah melihat Dimas masih kesulitan menaiki motor, mungkin dia baru belajar. Dan
Rita tidak ingin sampai terjadi kenapa-napa dengannya jika naik motor
dengannya. Dan akhirnya dengan sedikit berpegangan pada pinggang dimas, Rita
memberanikan diri. Tidak semenakutkan yang Rita bayangkan, tapi karena Dimas
sedikit ngebut demi menghindari gerimis Rita jadi sedikit mengencangkan
pegangan pada Dimas. Dan entah apa yang dirasakan Dimas, mungkin tidak peduli
tentang itu. Padahal yang dirasakan Rita, ada beberapa kuncup bunga bermekaran
di hatinya.
Tugas statistik sudah mendekati
akhir, dan sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Rita berharap bertemu lagi
dengan Dimas karena sebentar lagi liburan panjang. Sebuah kejadian tidak
terduga datang pada Rita. Seorang laki-laki yang pernah disayanginnya pergi
meninggalkan dirinya demi seorang perempuan lain. Memang tidak ada ikatan
antara Rita dan Bian tetapi hati Rita sudah terikat dengan erat terhadap Bian.
Dan itu sempat membuat rita kehilangan dirinya beberapa lama. Dia sakid. Sakit
hatinya. Sakit pikirannya. Sakit jiwa ragannya. Sudah tidak ada lagi seseorang
yang sayang padanya. Semua sudah berakhir. Hidup Rita redup. Rita seakan sudah mati.
“siang-siang
makan semangka, cwe cantik lagi apa???”
Tidak disangka-sangka oleh Rita, Dimas
tiba-tiba sms. Sebuah senyuman tersirat diwajahnya.
“istirahat
lyad tivi, cwe cantik lagy patah hati...”
Akhirnya diketahui Rita bahwa Dimas
sedang liburan di Bali bersama teman-temannya. Akhirnya hati Rita yang semula
mati menjadi sedikit hidup lagi dengan adanya musim semi yang dibawa oleh Dimas.
Hati Rita bersemi kembali dengan adanya sedikit perhatian dari Dimas. Meskipun Dimas
tidak tahu sama sekali bahwa dialah seseorang yang telah membuat hidup Rita
kembali bermakna lagi. Menjadi lebih baik lagi karena sakit hati yang Rita
rasakan seolah-olah tidak terasa lagi. Semuanya seakan hilang begitu saja.
Kesedihan berhari-hari itu telah berubah menjadi sebuah kebahagiaan.
Meskipun begitu, Rita tidak ingin
bersandar pada kebaikan Dimas. Meskipun dia tahu, obat sakit hati yang paling
ampun adalah jatuh cinta lagi, dia tidak ingin seperti itu. Dia ingin menjaga
hubungan baik dengan Dimas seperti sebelumnya. Dia akhinya menjaga jarak dengan
Dimas dalam hal sms an. Rita tidak mau jika dia akhirnya jauh cinta dengan
temannya sendiri. Karena seperti cerita yang sudah-sudah, karena cinta sebuah
persahabatan baik bisa hancur. Rita tidak ingin itu sampai terjadi pada dirinya
dan Dimas.
Liburan telah selesai dan
kehidupan baru di Malang pun telah dimulai. Kuliah berjalan seperti biasa
dengan Rita yang baru. Rita yang saat ini menganngap bahwa dunia ini begitu
indah. Tidak perlu ada air mata dan kesedihan yang terus menerus. Yang ada
hanyalah senyuman untuk menghadapi tantangan dan ujian baru setiap harinya.
Karena apapun yang terjadi dalam sebuah
hari itu adalah pilihan hidup yang telah kita pilih. Semua akan baik-baik saja
karena Allah selalu bersama kita.
“ayo
sama-sama ngambil khs di fak hari rabu...”
Pinta Rita ke Dimas karena Dimaslah
yang membawa kwitansi pembayaran spp. Waktu itu Rita meminta tolong Dimas untuk
membantu membayarkan ke bank, karena Rita tidak tidak sempat membayarkannya.
“oke
dahh..hhhhe...”
Jawab Dimas singkat lewat sms.
Pertemuan kembali setelah hampir 2
bulan tidak ketemu. Dimas berbeda, berbeda dari dulu. Sedikit lebih dewasa,
tapi masih tetap dengan senyumannya yang khas itu.
Kuliah telah berjalan selama 2 minggu.
Rita tidak sengaja sms an dengan Dimas yang bilang dia ingin jalan-jalan malam.
“aku
pingin jalan-jalan malem Dim,”
“kemana???”
“entahlah...
aku aja tidak terlalu kenal kota malang, L”
Keluh Rita dengan emo sedih di sms
nya.
Dimas menyanggupi kalau besok
malam dia akan mengajak Rita ke alun-alun Kota Batu. Tapi Rita tidak bisa percaya
100% mengingat Dimas adalah seseorang yang suka bercanda. Tapi ternyata Senin
malam itu bukan sebuah candaan.
“aku
udh di bawah”
Sms Dimas sungguh mengejutkannya
yang sedang asyik bercanda dengan adik dan Manda di kamar kos. Akhirnya Rita turun
dan memastikan kebenaran perkataan Dimas. Rita tidak tahu harus berbuat apa
karena memang aku tidak pernah berfikir sebelumnya. Rita tidak tahu harus
berbuat apa karena kenyataan memang sudah ada di depan mata.
“Ke alun-alun Batu yaaa...”, kata Dimas
“Iyaa dech... Aku juga belum tahu
daerah sana”, jawab Rita sambil tersenyum
Perjalanan yang panjang dan
dinginnya malam sehabis hujan menemani mereka sampai ke kota Batu. Hampir 1 jam
perjalanan naik motor.
Tidak berapa lama mereka sampai.
Mereka mulai jalan-jalan mengelilingi alun-alun Batu sambil bercanda-canda.
Tidak tahu orang-orang disana berfikir tentang hubungan mereka berdua seperti
apa. Yang pasti saat itu mereka masih berstatus “teman”.
“Naik bianglala yukkk...”, ajak Rita
“Haaaahhh... takut, itu tinggi
sekali kan”, jawab Dimas ragu
“Tapi, ayo kita coba saja”, Dimas
menambah sambil tersenyum
Rita senang sekali, dia tidak
merasa takut seperti dimas. Akan tetapi saat bianglala mulai merambah naik ke
atas, Rita mulai ketakutan dan meminta Dimas yang duduk di depannya menemani
duduk di sebelahnya. Sungguh romantis pikir Rita, tapi sungguh menakutkan.
“Kalau di komik-komik, saat
bianglala naik ke atas ada mitos kalau berciuman di tingkat paling atas akan
langgeng selalu”, pikiran Rita mulai melayang-layang karena semua ini baginya
adalah hayalan belaka di masa lalu.
Malam semakin larut, setelah turun
dari bianglala mereka duduk sejenak sambil menikmati indahnya malam di kota
batu. Mungkin karena hari biasa, tidak terlalu ramai di sana. Hanya ada beberpa
keluarga dan pasangan-pasangan yang ingin menikmati malam di alun-alun batu.
“Dingin banged... hmmm...”, kata Rita
pelan
“Nyari minum yang anged-anged ae
gmn?”, sambung Dimas
Akhirnya Dimas mengajak Rita ke
suatu tempat yang Rita sendiri belum pernah kesana. Disana adalah tempat yang
indah karena bisa melihat indahnya lampu-lampu malam di seluruh kota Batu.
Memang indah tapi malam sudah semakin larut. Pukul 10 Rita seharusnya sudah
berada di kos, apalagi dia seorang perempuan. Tidak pernah berfikir dalam benak
Rita, kalau dia akan mengahabiskan malam bersama seorang teman laki-lakinya
sampai malam, pun ketika Rita di rumah. Dia yang selalu takut dengan peraturan
keluargannya, tapi ternyata dia bisa juga menikmati kesalahan yang telah dia
buat.
Pukul 11 malam, akhirnya Rita
sampai di kos. Dan karena kos sudah dikunci, Dimas mau menemani sampai
dibukakan. Pikir Rita, “dia bener-bener teman yang baik”. Rita senang meskipun
menyesal karena apa yang dia lakukan itu sebenarnya kurang baik. Rita malu
karena dia ternyata masih mudah sekali di goda dengan kesenangan duniawi.
“makasih”
Kata Dimas lewat sms sesaat
sebelum aku tidur.
Rita memang sudah mengucapkan
terimakasih untuk semua keindahan yang telah dia dapatkan malam ini, lalu apa
maksud Dimas mengucapkan kata terimakasih itu? Rita sampai sekarang belum
mengerti maksud kata-kata itu. Hanya Dimas mungkin yang tahu.
Beberapa hari setelah peristiwa
malam itu, semua kembali seperti semula. Rita dan Dimas kembali menjadi teman
seangkatan. Teman satu jurusan. Yang kadang-kadang satu kelas dalam kuliah. Kenangan
malam itu menjadi harta karun yang akan terus terpendam oleh waktu hingga suatu
saat ingatan menemukan harta karun berupa “kenangan satu malam”.
Mereka kadang masih berhubungan
lewat sms. Mereka juga masih sering bercanda. Hingga tidak tahu mana kata-kata
yang serius dan yang bercandaan.
“wahhh...
udah bisa buat orang yang disukai klepek-klepek karena rayuan gombal mu nich”
Canda Rita membalas rayuan Dmas
lewat sms.
“ahhh...
masih gini-gini aja kug. Ada sihh yang disukai, tapi tidak tau bisa buat dia
klepek-klepek ato nda”
Jawabnya.
Gelap. Sunyi.
Sakit. Sepertinya Dimas sudah memiliki orang yang di sukai. Seandainya itu Rita.
27 februari, Malang
xxx

Tidak ada komentar:
Posting Komentar