Pages

Senin, 05 Maret 2012

Pacar Semalam

Sebelumnya hanya teman biasa di kelas. Jarang bercakap. Jarang bertemu. Tapi sebuah takdir mengubah semuanya. Sebuah tugas kelompok yang menghubungkan antara keduannya. Sebut saja Rita dan Dimas. Keduanya memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Rita dengan sifat pendiam, terlalu serius, menginginkan perfect untuk semuanya, egois, bahkan juga sangat menakutkan sebagai seorang mahasiswi karena jarang tersenyum. Berbeda dengan Rita, Dimas seorang laki-laki yang ramah pada semua orang, santai, easy going, dan yang paling membuat banyak orang suka adalah senyuman yang selalu tersungging di bibirnya. Sungguh menawan sebagai seorang laki-laki.
“Ayo dunk, cepat kita kerjakan tugas statistiknya!”, pinta Rita ke semua teman sekelompokku.
“Iyaaa, yang sabar dunk pren”, sahut Anggun temen deket Rita
“Santai aja lah... kita tunggu temen-temen yang lain dulu”, Dimas menyahut sambil tersenyum kepadaku.
“Emmm... Iyaa dech”, Rita tertegun melihat Dimas beberapa saat.
“Ehhh... tapi kita belun lengkap datane, karena semua tertinggal di kos ku”, sahut Rita tiba-tiba
“Siapa yang mw nganterin nich???”, lanjut Rita
“Aku bawa motor, tapi gerimis nich”, jawab Lila dengan enggan
“Tz sapa yang mw nganterin aku klo gt??? Rita yang memelas
“Mana kuncinya, sama aku aja dah”, jawab Dimas dengan santainnya
Rita terus berfikir, karena Anggun pernah melihat Dimas masih kesulitan menaiki motor, mungkin dia baru belajar. Dan Rita tidak ingin sampai terjadi kenapa-napa dengannya jika naik motor dengannya. Dan akhirnya dengan sedikit berpegangan pada pinggang dimas, Rita memberanikan diri. Tidak semenakutkan yang Rita bayangkan, tapi karena Dimas sedikit ngebut demi menghindari gerimis Rita jadi sedikit mengencangkan pegangan pada Dimas. Dan entah apa yang dirasakan Dimas, mungkin tidak peduli tentang itu. Padahal yang dirasakan Rita, ada beberapa kuncup bunga bermekaran di hatinya.
Tugas statistik sudah mendekati akhir, dan sudah tidak ada kesempatan lagi bagi Rita berharap bertemu lagi dengan Dimas karena sebentar lagi liburan panjang. Sebuah kejadian tidak terduga datang pada Rita. Seorang laki-laki yang pernah disayanginnya pergi meninggalkan dirinya demi seorang perempuan lain. Memang tidak ada ikatan antara Rita dan Bian tetapi hati Rita sudah terikat dengan erat terhadap Bian. Dan itu sempat membuat rita kehilangan dirinya beberapa lama. Dia sakid. Sakit hatinya. Sakit pikirannya. Sakit jiwa ragannya. Sudah tidak ada lagi seseorang yang sayang padanya. Semua sudah berakhir. Hidup Rita redup. Rita seakan sudah mati.
“siang-siang makan semangka, cwe cantik lagi apa???”
Tidak disangka-sangka oleh Rita, Dimas tiba-tiba sms. Sebuah senyuman tersirat diwajahnya.
“istirahat lyad tivi, cwe cantik lagy patah hati...”
Akhirnya diketahui Rita bahwa Dimas sedang liburan di Bali bersama teman-temannya. Akhirnya hati Rita yang semula mati menjadi sedikit hidup lagi dengan adanya musim semi yang dibawa oleh Dimas. Hati Rita bersemi kembali dengan adanya sedikit perhatian dari Dimas. Meskipun Dimas tidak tahu sama sekali bahwa dialah seseorang yang telah membuat hidup Rita kembali bermakna lagi. Menjadi lebih baik lagi karena sakit hati yang Rita rasakan seolah-olah tidak terasa lagi. Semuanya seakan hilang begitu saja. Kesedihan berhari-hari itu telah berubah menjadi sebuah kebahagiaan.
Meskipun begitu, Rita tidak ingin bersandar pada kebaikan Dimas. Meskipun dia tahu, obat sakit hati yang paling ampun adalah jatuh cinta lagi, dia tidak ingin seperti itu. Dia ingin menjaga hubungan baik dengan Dimas seperti sebelumnya. Dia akhinya menjaga jarak dengan Dimas dalam hal sms an. Rita tidak mau jika dia akhirnya jauh cinta dengan temannya sendiri. Karena seperti cerita yang sudah-sudah, karena cinta sebuah persahabatan baik bisa hancur. Rita tidak ingin itu sampai terjadi pada dirinya dan Dimas.
Liburan telah selesai dan kehidupan baru di Malang pun telah dimulai. Kuliah berjalan seperti biasa dengan Rita yang baru. Rita yang saat ini menganngap bahwa dunia ini begitu indah. Tidak perlu ada air mata dan kesedihan yang terus menerus. Yang ada hanyalah senyuman untuk menghadapi tantangan dan ujian baru setiap harinya. Karena apapun yang terjadi  dalam sebuah hari itu adalah pilihan hidup yang telah kita pilih. Semua akan baik-baik saja karena Allah selalu bersama kita.
“ayo sama-sama ngambil khs di fak hari rabu...”
Pinta Rita ke Dimas karena Dimaslah yang membawa kwitansi pembayaran spp. Waktu itu Rita meminta tolong Dimas untuk membantu membayarkan ke bank, karena Rita tidak tidak sempat membayarkannya.
“oke dahh..hhhhe...”
Jawab Dimas singkat lewat sms.
Pertemuan kembali setelah hampir 2 bulan tidak ketemu. Dimas berbeda, berbeda dari dulu. Sedikit lebih dewasa, tapi masih tetap dengan senyumannya yang khas itu.
Kuliah telah berjalan selama 2 minggu. Rita tidak sengaja sms an dengan Dimas yang bilang dia ingin jalan-jalan malam.
“aku pingin jalan-jalan malem Dim,”
“kemana???”
“entahlah... aku aja tidak terlalu kenal kota malang, L
Keluh Rita dengan emo sedih di sms nya.
Dimas menyanggupi kalau besok malam dia akan mengajak Rita ke alun-alun Kota Batu. Tapi Rita tidak bisa percaya 100% mengingat Dimas adalah seseorang yang suka bercanda. Tapi ternyata Senin malam itu bukan sebuah candaan.
“aku udh di bawah”
Sms Dimas sungguh mengejutkannya yang sedang asyik bercanda dengan adik dan Manda di kamar kos. Akhirnya Rita turun dan memastikan kebenaran perkataan Dimas. Rita tidak tahu harus berbuat apa karena memang aku tidak pernah berfikir sebelumnya. Rita tidak tahu harus berbuat apa karena kenyataan memang sudah ada di depan mata.
“Ke alun-alun Batu yaaa...”, kata Dimas
“Iyaa dech... Aku juga belum tahu daerah sana”, jawab Rita sambil tersenyum
Perjalanan yang panjang dan dinginnya malam sehabis hujan menemani mereka sampai ke kota Batu. Hampir 1 jam perjalanan naik motor.
Tidak berapa lama mereka sampai. Mereka mulai jalan-jalan mengelilingi alun-alun Batu sambil bercanda-canda. Tidak tahu orang-orang disana berfikir tentang hubungan mereka berdua seperti apa. Yang pasti saat itu mereka masih berstatus “teman”.
“Naik bianglala yukkk...”, ajak Rita
“Haaaahhh... takut, itu tinggi sekali kan”, jawab Dimas ragu
“Tapi, ayo kita coba saja”, Dimas menambah sambil tersenyum
Rita senang sekali, dia tidak merasa takut seperti dimas. Akan tetapi saat bianglala mulai merambah naik ke atas, Rita mulai ketakutan dan meminta Dimas yang duduk di depannya menemani duduk di sebelahnya. Sungguh romantis pikir Rita, tapi sungguh menakutkan.
“Kalau di komik-komik, saat bianglala naik ke atas ada mitos kalau berciuman di tingkat paling atas akan langgeng selalu”, pikiran Rita mulai melayang-layang karena semua ini baginya adalah hayalan belaka di masa lalu.
Malam semakin larut, setelah turun dari bianglala mereka duduk sejenak sambil menikmati indahnya malam di kota batu. Mungkin karena hari biasa, tidak terlalu ramai di sana. Hanya ada beberpa keluarga dan pasangan-pasangan yang ingin menikmati malam di alun-alun batu.
“Dingin banged... hmmm...”, kata Rita pelan
“Nyari minum yang anged-anged ae gmn?”, sambung Dimas
Akhirnya Dimas mengajak Rita ke suatu tempat yang Rita sendiri belum pernah kesana. Disana adalah tempat yang indah karena bisa melihat indahnya lampu-lampu malam di seluruh kota Batu. Memang indah tapi malam sudah semakin larut. Pukul 10 Rita seharusnya sudah berada di kos, apalagi dia seorang perempuan. Tidak pernah berfikir dalam benak Rita, kalau dia akan mengahabiskan malam bersama seorang teman laki-lakinya sampai malam, pun ketika Rita di rumah. Dia yang selalu takut dengan peraturan keluargannya, tapi ternyata dia bisa juga menikmati kesalahan yang telah dia buat.
Pukul 11 malam, akhirnya Rita sampai di kos. Dan karena kos sudah dikunci, Dimas mau menemani sampai dibukakan. Pikir Rita, “dia bener-bener teman yang baik”. Rita senang meskipun menyesal karena apa yang dia lakukan itu sebenarnya kurang baik. Rita malu karena dia ternyata masih mudah sekali di goda dengan kesenangan duniawi.
“makasih”
Kata Dimas lewat sms sesaat sebelum aku tidur.
Rita memang sudah mengucapkan terimakasih untuk semua keindahan yang telah dia dapatkan malam ini, lalu apa maksud Dimas mengucapkan kata terimakasih itu? Rita sampai sekarang belum mengerti maksud kata-kata itu. Hanya Dimas mungkin yang tahu.
Beberapa hari setelah peristiwa malam itu, semua kembali seperti semula. Rita dan Dimas kembali menjadi teman seangkatan. Teman satu jurusan. Yang kadang-kadang satu kelas dalam kuliah. Kenangan malam itu menjadi harta karun yang akan terus terpendam oleh waktu hingga suatu saat ingatan menemukan harta karun berupa “kenangan satu malam”.
Mereka kadang masih berhubungan lewat sms. Mereka juga masih sering bercanda. Hingga tidak tahu mana kata-kata yang serius dan yang bercandaan.
“wahhh... udah bisa buat orang yang disukai klepek-klepek karena rayuan gombal mu nich”
Canda Rita membalas rayuan Dmas lewat sms.
“ahhh... masih gini-gini aja kug. Ada sihh yang disukai, tapi tidak tau bisa buat dia klepek-klepek ato nda”
Jawabnya.
Gelap. Sunyi. Sakit. Sepertinya Dimas sudah memiliki orang yang di sukai. Seandainya itu Rita.


 27 februari, Malang
xxx
                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar